Pastinya kita semua
sudah tahu bahwa wisuda hanyalah merupakan pelepasan secara resmi
mahasiswa/mahasiswi oleh universitas/sekolah tinggi, ia hanyalah merupakan
simbolik bahwa sorang mahasiswa/i telah menyelesaikan pendidikannya. Tapi yang
jauh lebih penting adalah hal-hal setelah wisuda itu sendiri, mau ke manakah
kita? Mencari kerja atau meneruskan kuliah lagi? Sudah siapkah kita untuk
menghadapi dunia kerja?
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya
kita flashback ke masa studi kita dulu, berapa buku yang harus kita baca,
berapa makalah kuliah yang harus kita buat, berapa laporan yang harus kita
susun, berapa banyak praktikum yang harus kita jalani, KKN dan PPL (KP) yang
harus kita lalui, berapa sering dan lama kita harus menunggu dosen untuk
bimbingan atau minta tanda tangan, belum lagi ujian pendadaran yang harus kita
ikuti, dan lain sebagainya. Memang harus diakui untuk menjadi seorang sarjana
tidaklah mudah. Namun itu adalah yang terbaik untuk kita sebagai bekal kita di
masa mendatang.
Masih dalam rangka flashback, selama kita studi tentu ada yang
senantiasa memberikan dukungan moril maupun materiil sehingga kita bisa terus
mengenyam bangku pendidikan. Siapakah mereka? Betul sekali, mereka adalah kedua
orang tua kita. Jangan tanyakan berapa yang harus kita bayarkan untuk
pengorbanan mereka. Doa, cinta, kasih sayang, dan motivasi ibu/bapak tentunya
tidak bisa dirupiahkan. Berapa banyak rupiah yang telah mereka keluarkan untuk
membiayai kuliah kita, perjuangan dan dedikasi mereka agar si anak tetap bisa
mengenyam bangku kuliah sampai akhir, mereka rela hidup sederhana asalkan
setiap bulan bisa mengirim uang untuk anaknya, serta hal-hal lainnya yang telah
mereka berikan dengan tulus dan tanpa meminta imbalan apapun. Mereka hanya
ingin anak mereka menjadi orang yang sukses, yang taraf kehidupannya lebih baik
dari mereka sekarang. Itulah mereka yang selalu bersedia apa saja untuk masa
depan putra/putrinya, pantaskah bila kemudian kita mengecewakan mereka?
Kembali ke pertanyaan-pertanyaan tersebuat di atas. Saat prosesi
wisuda, tentunya seorang mahasiswa senang sekaligus bangga, tapi di sisi lain
rata-rata mahasiswa bingung ke mana harus mencari kerja, bayangan pengangguran
intelektual di depan mata. Sementara orang tua sudah mengelontorkan biaya
hingga titik penghabisan. Tentuanya orang tua menginginkan si anak menjadi
orang yang bekerja dan mapan, jangan sampai menjadi pengangguran terdidik.
Sedikitnya lapangan pekerjaan menjadi kendala utama, serta persaingan yang
semakin ketat. Berbeda dengan lulusan SMA dan Diploma, lebih sedikit yang
menganggur dibanding sarjana. Alih-alih ingin menjadi manager pabrik, panggilan
untuk interview tak jua datang. Kalaupun ada, biasanya marketing (sales door to
door).
Pada selembar kertas kehidupan saudara, Anda pasti sudah
menuliskan sebuah kerangka kehidupan entah itu berada pada poin empat, poin
enam, atau poin sembilan, sebuah kalimat utama: “saya adalah seorang S.FIL.I,
MA PA S.Th.I, PI S.Sos, atau yang lainnya. Saudara kita telah ditempa
walaupun masih perlu kita tajamkan lagi agar menjadi pisau yang berguna, kita
telah melewati banyak rintangan-rintangan jeram perkuliahan yang memahirkan dan
mematangkan pengetahuan, pengalaman, emosi, dan spiritual kita.
Hal yang harus kita ketahuai adalah bahwa wisuda hanyalah
merupakan permulaan lembaran kehidupan kita yang baru untuk menjadi seorang
yang lebih dewasa, lebih matang, dan lebih bisa mandiri. Mungkin saat masih
kuliah masih ada yang bermalas-malasan dan belum mempunyai rencana yang jelas
untuk kehidupan di masa depannya, sekarang bukanlah saatnya, jangan dibawa
sikap-sikap tersebuat. Sekarang adalah saatnya untuk bertindak untuk menjadi
pejuang bagi masa depan, berjuanglah karena itu sudah menjadi bagian dari diri kita.
Berusahan dan senantiasa memohon kepada-Nya untuk kemudahan jalan Anda dalam
mengapai mimpi-mimpi Anda. Karena saya yakin saudara punya mimpi-mimpi besar
untuk masa depan Anda.

0 comments:
Post a Comment